Bismillah…ku tuliskan cerita ini untuk mengobati kerinduan yang amat dalam kepada Datok Ali Mannan, kakek tercinta rahimahullah…adik dari Ibu Aji tercinta semoga Allah meridhai-Nya..
Berita tentang kambuhnya penyakit jantung yang dideritanya baru saja terdengar setelah kepindahannya yang sudah ketiga kali di Rumah Sakit. Aku pun teringat ketika beliau saat itu juga beliau pernah berada terbaring sakit di sana, masih sempat menyapaku dengan senyum penuh merekah… meskipun selang bius mengelilingi lengannya yang kekar. Betapa senangnya hati ini pada saat beliau menyapaku, beberapa hari kemudian beliau telah sehat kembali dan masih sempat menikmati santapan makanan di hari Ied tahun kemarin.
Sudah lama aku tak bersua dengannya karena banyak amanah pekerjaan yang menjadi rutinitas harianku selama ini. Itulah kelebihan beliau di usianya yang ketujuh puluh satu, meskipun kita jarang bersua namun beliau masih mengingat jelas siapa cucu-cucunya dan masih sempat berbagi keceriaan bersama kami. Aku tahu beliau tak pernah melupakan cucu-cucunya karena sepanjang hidup beliau dikelilingi oleh qurrata a’yun yang senantiasa menyertainya di rumah. Masih teringat ketika kita bersama menuju acara pernikahan keluarga di Soppeng, beliau tersenyum dan memujiku mengenakan jilbab jatuh menutup ujung jemariku, yang notabene belum ada satu pun member dari cucu keluarga besar yang modelnya sepertiku.
Spontan nafasku seperti tertahan ketika mendengarnya sudah tidak sadarkan diri selama beberapa hari lamanya… Aku ingin melihatnya!, pintaku. Aku ingin melihatnya menyambutku di pembaringannya dan menghiburnya seperti dulu…Aku memang bukan cucu yang selalu dilihatnya setiap hari. Bukanlah anak yang selalu menyapanya seperti yang sanak saudara yang lain. Namun hanya dengan melihat beliau hati ini sudah merasa cukup gembira memperhatikannya tertawa melihat cicitnya yang berlenggak lenggok dengan gaya centilnya sambil berlari kian kemari sekedar mencari perhatiannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam lewat beberapa menit..harap-harap cemas sudah menyelimuti pikiranku hingga akupun tak mampu bertanya-tanya lagi kepada tante dan kakekku yang menjemputku dan Mama di rumah. Akhirnya kita pun berangkat ke rumah sakit yang lumayan jauh dari rumah. Ruangan beliau adalah ruangan yang sama ditempatinya pada saat itu, Ruang Kardiologi. Hanya beberapa langkah saja kaki harus berjalan menelusuri koridor rumah sakit.
Namun satu hal yang beda, tak terlihat lagi wajahnya yang menyambutku dengan senyum indahnya. Beliau hanya bisa mendengar atau masih merasakan sentuhan orang-orang yang melihatnya dengan wajah penuh duka. Dahulu selang yang melingkar hanya di lengannya dari sekedar botol obat. Namun sekarang…selang yang terulur di sekujur tubuhnya semakin membuatnya seperti jasad tanpa daya.
Di balik tirai hijau yang menyelimuti ruang pembaringnya, aku tidak mampu lagi berucap apa-apa. Ummi, istri tercinta beliau memintaku untuk membantu mentalqinnya. Tanpa berbicara lagi..aku bersegera memegang dahinya dan menatap wajahnya dan membisikkannya kalimat agung “ Laa ilaa ha illallah…”
Sesekali beliau membalik-balikkan wajahnya, namun tak sanggup lagi berbicara. Desah nafasnya yang tersengal-sengal membuatku tak mampu menahan air mata ketika mentalqinnya. Ya Allah, mudahkanlah kepergiannya jika memang tanda-tanda ini kautunjukkan pada kami bahwa tak lama lagi Engkau akan mengambil jiwanya….ya Allah, mudahkanlah ia menghadapi sakaratnya…
Satu jam tak terasa telah berlalu…ku buka kembali surah al-Fath dan beberapa surah dari quraan juz 28. Setidaknya aku ingin beliau mendengar ayat-ayat Allah yang begitu mulia sebelum ia meninggalkan dunia yang fana ini. Ar-Rahmaan…’allamal qur’aan,… Idzaa waqa’Atil Waa qi’ah… Sesekali ada ayat-ayat yang kupilih dan diulang-ulang agar beliau senantiasa mampu mengambil manfaat dari apa yang diperdengarkannya. Badan beliau hangat..namun terkadang kembali dingin ketika tidak ada lagi yang menyapanya meskipun dengan sebuah ayat yang dibisikkan di telinganya. Aku ingin selalu memeluknya dengan harapan itu mampu membuatnya lebih tenang.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suster pun datang melihat keadaannya. Tampak senyum bergurat kecemasan Nampak di wajahnya. Sepertinya ia berusaha membuat kita semua agar tetap tenang. Ia pun menuangkan susu ke dalam gelas dan mengambil air di dalam sebuah botol air. Tak berhenti kutatap pergerakan suster itu. Terlalu banyak kecurigaan yang terbersit di pikiran jika berada di dalam rumah sakit ini. Terkadang perawat dan dokternya memberikan pelayanan seadanya saja. Apalagi dengan Dato’, mungkin di pikiran mereka hanya menunggu waktu saja. Hanya menghabiskan obat dan cairan makanan dan akhirnya selesai. Beliau pun meminum susu yang dimasukkan di dalam selang hidungnya yang berhubungan langsung dengan lambung. Subhanallah…beliau benar-benar tidak berdaya.
Wajah Ummi sudah sangat terlihat pucat, kakinya masya Allah sudah mulai membengkak. Sudah lama beliau berdiri di samping pembaringan suami yang sangat dicintainya itu. Kecintaannya membuat beliau lebih memilih mendampingi, men-talqin dan mengusap wajah Datok ketimbang beristirahat. Wajah sendunya telah memudarkan rona wajah beliau yang biasa terlihat. Tante Anti , Tante Ida, Tante Lina beserta semua keluarga tak henti-hentinya menjaga beliau. Untungnya aku membawa sebungkus buah duku yang bisa mengisi perut dan berbagi dengan mereka.
Rasanya aku tak ingin meninggalkan tempat ini hingga melihat kepergian beliau, namun Mama dan Tata’ Aji ternyata sudah lelah dan belum makan malam sama sekali. Petta Lely apalagi, yang mengemudi padahal beliau juga baru saja pulang dari tempat kerja. Subhanallah. Aku tak ingin meninggalkan Dato’.. Namun, tak lama kemudian tubuhnya menghangat kembali, nafasnya tidak tersengal seperti sebelumnya. Mungkin beliau sudah cukup tenang dan tertidur.
Aku pun beranjak dari kursi di samping pembaringannya.. Lalu menyalami semua tante, anak-anak yang amat dikasihi Dato’ juga cucu-cucunya yang masih setia menunggunya di luar. Kembali kutengok beliau, rasanya berat untuk meninggalkannya. Mungkin inilah saat terakhir aku bertemu dengannya di dunia yang fana ini. Akhirnya, sebelum pergi…aku pun meremas tangannya untuk menyalaminya, Tak henti-hentinya kukecup tangannya yang tiba-tiba menggenggam tanganku erat sekali.
Dekapan tangannya sepertinya mengisyaratkanku untuk tetap tinggal . Namun malam sudah semakin larut. Aku khawatir kesehatanku juga akan menurun jika memaksakan diri. Assalaamu’alaykum Dato…sahutku.
Matahari telah terbit, masih kubertanya-tanya bagaimana keadaaan Datok di sana?. Semoga ia baik-baik saja. Alhamdulillah, tidak ada kabar berita dari telepon yang kami dapatkan dari rumah sakit. Siapa tahu kondisi Datok menguat dan akhirnya bisa pulih seperti dulu…
Handphone Mama berdering…Kurang lebih pukul 12 lewat 50 menit.. Aku bersama seorang murid yang sedang belajar di rumah mendengarnya dari kamarku. “ Apa?? Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun …”
Subhanallah, pundakku tiba-tiba lemah lunglai. Pandanganku seperti kosong. Tak mampu lagi mengucapkan kata-kata…muridku melihat gerikku yang sudah gerasak gerusuk menghubungi ibunya. Setelah ini, seisi rumah harus pergi ke rumah beliau,nak, ucapku kepada Tika, my beloved student.
Pukul tiga lewat lima menit, akhirnya aku melangkahkan kaki bersama Bapak dan Mama menuju ke pembaringannya yang telah dapat kulihat dari kejauhan..
”Datok sudah tiba…”, pintaku dalam hati.
Langkahku semakin lama semakin cepat seolah tak mampu lagi kutahan kesedihan ini. … Ternyata kejadian ini berulang kembali seperti Ibu Aji dulu. Yang ada tinggal jasadnya saja… Aku tidak sempat memndampinginya di saat-saat hembusan nafasnya yang terakhir.
Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun..
Subhanallah, aku teringat Baginda Rasulullah sewaktu anaknya, Ibrahim wafat. Meleleh air mata beliau namun beliau tetap saja mengucapkan kata-kata kebaikan.
Tak henti-hentinya aku ingin memeluknya…mengecup keningnya..
Dato’, maafkan kalau aku punya salah. Maafkan segala kesalahan anak-anakmu, cucu-cucumu yang pernah mendurhakaimu atau mungkin pernah menyakiti hatimu. Dato’, kami akan selalu mendampingi dirimu dengan doa…
Allahummagfirlahu warhamhu wa’aafiihu..
Wa’fuanhu,, wa akrim nuzulahu , wa wassi’mudkhalahu… Yaa Arhamarraahimiin…
Perih terasa kepala ini dibuat, mungkin kesedihanku terlalu dalam ya Rabb…Astagfirullah…
Keesokan harinya…saatnya keluarga membawanya ke persitirahatan terakhir Datok. Ternyata diputuskan Datok akan di makamkan di Sudiang. It means, tempat peristirahatan Ibu Aji dan Ambo’ juga disana. Tak sabar aku ingin melihat kuburan mereka di sana…
Satu per satu anak dan cucunya mengecup dan mengusap kening Datok. Itulah kali terakhir mereka menyentuh Datok dengan penuh kasih. Aku tak sanggup lagi menyentuhnya…Perasaan sedihku kukhawatirkan akan membuat perasaanku semakin tidak stabil.
Pukul 11.25 , Alhamdulillah…Datok Ali telah berada dibaringkan di tempat peristirahatannya. Stu per satu menatap sedih, sendu, memandang melambung jauh…memikirkan kejadian apa yang ada di hadapan mereka. Ada yang mendoakan, berbisik bercerita tentang beliau…Subhanallah. Tersadarku bahwa satu per satu di antara saksi hidup yang berdiri di tempat ini juga akan menyusul. Namun entah hingga kapan tiba waktunya. Datok…insya Allah aku akan selalu mendoakanmu, Datok. Semoga doa yang kupanjatkan bisa menjadi penyelamat yang mendampingimu di alam barzakh. Semoga Allah Yang Maha Mulia, Maha Mengampuni, memudahkanmu menghadapi pertanyaan kedua malaikat-Nya yang diutus untuk menanyaimu tentang tiga perkara penting…yang telah kau ajarkan kepada anak cucumu di dunia…dan semoga…setelah itu, Allah meluaskan kuburmu dan memberikanmu ranjang yang lebih baik dari dunia dan segala isinya untukmu beristirahat. Aku memang bukan cucumu yang selalu kau lihat setiap hari. Bukanlah anak yang selalu menyapamu seperti yang sanak saudara yang lain. Namun semoga hadiah doa yang kuberikan pada Rabb Yang Kucinta mampu membuatmu tak pernah melepaskan rekah senyummu di sana…
Wednesday, March 17, 2010
Detik-Detik Terakhir Bersamanya…
Bismillah…ku tuliskan cerita ini untuk mengobati kerinduan yang amat dalam kepada Datok Ali Mannan, kakek tercinta rahimahullah…adik dari Ibu Aji tercinta semoga Allah meridhai-Nya..
Berita tentang kambuhnya penyakit jantung yang dideritanya baru saja terdengar setelah kepindahannya yang sudah ketiga kali di Rumah Sakit. Aku pun teringat ketika beliau saat itu juga beliau pernah berada terbaring sakit di sana, masih sempat menyapaku dengan senyum penuh merekah… meskipun selang bius mengelilingi lengannya yang kekar. Betapa senangnya hati ini pada saat beliau menyapaku, beberapa hari kemudian beliau telah sehat kembali dan masih sempat menikmati santapan makanan di hari Ied tahun kemarin.
Sudah lama aku tak bersua dengannya karena banyak amanah pekerjaan yang menjadi rutinitas harianku selama ini. Itulah kelebihan beliau di usianya yang ketujuh puluh satu, meskipun kita jarang bersua namun beliau masih mengingat jelas siapa cucu-cucunya dan masih sempat berbagi keceriaan bersama kami. Aku tahu beliau tak pernah melupakan cucu-cucunya karena sepanjang hidup beliau dikelilingi oleh qurrata a’yun yang senantiasa menyertainya di rumah. Masih teringat ketika kita bersama menuju acara pernikahan keluarga di Soppeng, beliau tersenyum dan memujiku mengenakan jilbab jatuh menutup ujung jemariku, yang notabene belum ada satu pun member dari cucu keluarga besar yang modelnya sepertiku.
Spontan nafasku seperti tertahan ketika mendengarnya sudah tidak sadarkan diri selama beberapa hari lamanya… Aku ingin melihatnya!, pintaku. Aku ingin melihatnya menyambutku di pembaringannya dan menghiburnya seperti dulu…Aku memang bukan cucu yang selalu dilihatnya setiap hari. Bukanlah anak yang selalu menyapanya seperti yang sanak saudara yang lain. Namun hanya dengan melihat beliau hati ini sudah merasa cukup gembira memperhatikannya tertawa melihat cicitnya yang berlenggak lenggok dengan gaya centilnya sambil berlari kian kemari sekedar mencari perhatiannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam lewat beberapa menit..harap-harap cemas sudah menyelimuti pikiranku hingga akupun tak mampu bertanya-tanya lagi kepada tante dan kakekku yang menjemputku dan Mama di rumah. Akhirnya kita pun berangkat ke rumah sakit yang lumayan jauh dari rumah. Ruangan beliau adalah ruangan yang sama ditempatinya pada saat itu, Ruang Kardiologi. Hanya beberapa langkah saja kaki harus berjalan menelusuri koridor rumah sakit.
Namun satu hal yang beda, tak terlihat lagi wajahnya yang menyambutku dengan senyum indahnya. Beliau hanya bisa mendengar atau masih merasakan sentuhan orang-orang yang melihatnya dengan wajah penuh duka. Dahulu selang yang melingkar hanya di lengannya dari sekedar botol obat. Namun sekarang…selang yang terulur di sekujur tubuhnya semakin membuatnya seperti jasad tanpa daya.
Di balik tirai hijau yang menyelimuti ruang pembaringnya, aku tidak mampu lagi berucap apa-apa. Ummi, istri tercinta beliau memintaku untuk membantu mentalqinnya. Tanpa berbicara lagi..aku bersegera memegang dahinya dan menatap wajahnya dan membisikkannya kalimat agung “ Laa ilaa ha illallah…”
Sesekali beliau membalik-balikkan wajahnya, namun tak sanggup lagi berbicara. Desah nafasnya yang tersengal-sengal membuatku tak mampu menahan air mata ketika mentalqinnya. Ya Allah, mudahkanlah kepergiannya jika memang tanda-tanda ini kautunjukkan pada kami bahwa tak lama lagi Engkau akan mengambil jiwanya….ya Allah, mudahkanlah ia menghadapi sakaratnya…
Satu jam tak terasa telah berlalu…ku buka kembali surah al-Fath dan beberapa surah dari quraan juz 28. Setidaknya aku ingin beliau mendengar ayat-ayat Allah yang begitu mulia sebelum ia meninggalkan dunia yang fana ini. Ar-Rahmaan…’allamal qur’aan,… Idzaa waqa’Atil Waa qi’ah… Sesekali ada ayat-ayat yang kupilih dan diulang-ulang agar beliau senantiasa mampu mengambil manfaat dari apa yang diperdengarkannya. Badan beliau hangat..namun terkadang kembali dingin ketika tidak ada lagi yang menyapanya meskipun dengan sebuah ayat yang dibisikkan di telinganya. Aku ingin selalu memeluknya dengan harapan itu mampu membuatnya lebih tenang.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suster pun datang melihat keadaannya. Tampak senyum bergurat kecemasan Nampak di wajahnya. Sepertinya ia berusaha membuat kita semua agar tetap tenang. Ia pun menuangkan susu ke dalam gelas dan mengambil air di dalam sebuah botol air. Tak berhenti kutatap pergerakan suster itu. Terlalu banyak kecurigaan yang terbersit di pikiran jika berada di dalam rumah sakit ini. Terkadang perawat dan dokternya memberikan pelayanan seadanya saja. Apalagi dengan Dato’, mungkin di pikiran mereka hanya menunggu waktu saja. Hanya menghabiskan obat dan cairan makanan dan akhirnya selesai. Beliau pun meminum susu yang dimasukkan di dalam selang hidungnya yang berhubungan langsung dengan lambung. Subhanallah…beliau benar-benar tidak berdaya.
Wajah Ummi sudah sangat terlihat pucat, kakinya masya Allah sudah mulai membengkak. Sudah lama beliau berdiri di samping pembaringan suami yang sangat dicintainya itu. Kecintaannya membuat beliau lebih memilih mendampingi, men-talqin dan mengusap wajah Datok ketimbang beristirahat. Wajah sendunya telah memudarkan rona wajah beliau yang biasa terlihat. Tante Anti , Tante Ida, Tante Lina beserta semua keluarga tak henti-hentinya menjaga beliau. Untungnya aku membawa sebungkus buah duku yang bisa mengisi perut dan berbagi dengan mereka.
Rasanya aku tak ingin meninggalkan tempat ini hingga melihat kepergian beliau, namun Mama dan Tata’ Aji ternyata sudah lelah dan belum makan malam sama sekali. Petta Lely apalagi, yang mengemudi padahal beliau juga baru saja pulang dari tempat kerja. Subhanallah. Aku tak ingin meninggalkan Dato’.. Namun, tak lama kemudian tubuhnya menghangat kembali, nafasnya tidak tersengal seperti sebelumnya. Mungkin beliau sudah cukup tenang dan tertidur.
Aku pun beranjak dari kursi di samping pembaringannya.. Lalu menyalami semua tante, anak-anak yang amat dikasihi Dato’ juga cucu-cucunya yang masih setia menunggunya di luar. Kembali kutengok beliau, rasanya berat untuk meninggalkannya. Mungkin inilah saat terakhir aku bertemu dengannya di dunia yang fana ini. Akhirnya, sebelum pergi…aku pun meremas tangannya untuk menyalaminya, Tak henti-hentinya kukecup tangannya yang tiba-tiba menggenggam tanganku erat sekali.
Dekapan tangannya sepertinya mengisyaratkanku untuk tetap tinggal . Namun malam sudah semakin larut. Aku khawatir kesehatanku juga akan menurun jika memaksakan diri. Assalaamu’alaykum Dato…sahutku.
Matahari telah terbit, masih kubertanya-tanya bagaimana keadaaan Datok di sana?. Semoga ia baik-baik saja. Alhamdulillah, tidak ada kabar berita dari telepon yang kami dapatkan dari rumah sakit. Siapa tahu kondisi Datok menguat dan akhirnya bisa pulih seperti dulu…
Handphone Mama berdering…Kurang lebih pukul 12 lewat 50 menit.. Aku bersama seorang murid yang sedang belajar di rumah mendengarnya dari kamarku. “ Apa?? Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun …”
Subhanallah, pundakku tiba-tiba lemah lunglai. Pandanganku seperti kosong. Tak mampu lagi mengucapkan kata-kata…muridku melihat gerikku yang sudah gerasak gerusuk menghubungi ibunya. Setelah ini, seisi rumah harus pergi ke rumah beliau,nak, ucapku kepada Tika, my beloved student.
Pukul tiga lewat lima menit, akhirnya aku melangkahkan kaki bersama Bapak dan Mama menuju ke pembaringannya yang telah dapat kulihat dari kejauhan..
”Datok sudah tiba…”, pintaku dalam hati.
Langkahku semakin lama semakin cepat seolah tak mampu lagi kutahan kesedihan ini. … Ternyata kejadian ini berulang kembali seperti Ibu Aji dulu. Yang ada tinggal jasadnya saja… Aku tidak sempat memndampinginya di saat-saat hembusan nafasnya yang terakhir.
Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun..
Subhanallah, aku teringat Baginda Rasulullah sewaktu anaknya, Ibrahim wafat. Meleleh air mata beliau namun beliau tetap saja mengucapkan kata-kata kebaikan.
Tak henti-hentinya aku ingin memeluknya…mengecup keningnya..
Dato’, maafkan kalau aku punya salah. Maafkan segala kesalahan anak-anakmu, cucu-cucumu yang pernah mendurhakaimu atau mungkin pernah menyakiti hatimu. Dato’, kami akan selalu mendampingi dirimu dengan doa…
Allahummagfirlahu warhamhu wa’aafiihu..
Wa’fuanhu,, wa akrim nuzulahu , wa wassi’mudkhalahu… Yaa Arhamarraahimiin…
Perih terasa kepala ini dibuat, mungkin kesedihanku terlalu dalam ya Rabb…Astagfirullah…
Keesokan harinya…saatnya keluarga membawanya ke persitirahatan terakhir Datok. Ternyata diputuskan Datok akan di makamkan di Sudiang. It means, tempat peristirahatan Ibu Aji dan Ambo’ juga disana. Tak sabar aku ingin melihat kuburan mereka di sana…
Satu per satu anak dan cucunya mengecup dan mengusap kening Datok. Itulah kali terakhir mereka menyentuh Datok dengan penuh kasih. Aku tak sanggup lagi menyentuhnya…Perasaan sedihku kukhawatirkan akan membuat perasaanku semakin tidak stabil.
Pukul 11.25 , Alhamdulillah…Datok Ali telah berada dibaringkan di tempat peristirahatannya. Stu per satu menatap sedih, sendu, memandang melambung jauh…memikirkan kejadian apa yang ada di hadapan mereka. Ada yang mendoakan, berbisik bercerita tentang beliau…Subhanallah. Tersadarku bahwa satu per satu di antara saksi hidup yang berdiri di tempat ini juga akan menyusul. Namun entah hingga kapan tiba waktunya. Datok…insya Allah aku akan selalu mendoakanmu, Datok. Semoga doa yang kupanjatkan bisa menjadi penyelamat yang mendampingimu di alam barzakh. Semoga Allah Yang Maha Mulia, Maha Mengampuni, memudahkanmu menghadapi pertanyaan kedua malaikat-Nya yang diutus untuk menanyaimu tentang tiga perkara penting…yang telah kau ajarkan kepada anak cucumu di dunia…dan semoga…setelah itu, Allah meluaskan kuburmu dan memberikanmu ranjang yang lebih baik dari dunia dan segala isinya untukmu beristirahat. Aku memang bukan cucumu yang selalu kau lihat setiap hari. Bukanlah anak yang selalu menyapamu seperti yang sanak saudara yang lain. Namun semoga hadiah doa yang kuberikan pada Rabb Yang Kucinta mampu membuatmu tak pernah melepaskan rekah senyummu di sana…
Berita tentang kambuhnya penyakit jantung yang dideritanya baru saja terdengar setelah kepindahannya yang sudah ketiga kali di Rumah Sakit. Aku pun teringat ketika beliau saat itu juga beliau pernah berada terbaring sakit di sana, masih sempat menyapaku dengan senyum penuh merekah… meskipun selang bius mengelilingi lengannya yang kekar. Betapa senangnya hati ini pada saat beliau menyapaku, beberapa hari kemudian beliau telah sehat kembali dan masih sempat menikmati santapan makanan di hari Ied tahun kemarin.
Sudah lama aku tak bersua dengannya karena banyak amanah pekerjaan yang menjadi rutinitas harianku selama ini. Itulah kelebihan beliau di usianya yang ketujuh puluh satu, meskipun kita jarang bersua namun beliau masih mengingat jelas siapa cucu-cucunya dan masih sempat berbagi keceriaan bersama kami. Aku tahu beliau tak pernah melupakan cucu-cucunya karena sepanjang hidup beliau dikelilingi oleh qurrata a’yun yang senantiasa menyertainya di rumah. Masih teringat ketika kita bersama menuju acara pernikahan keluarga di Soppeng, beliau tersenyum dan memujiku mengenakan jilbab jatuh menutup ujung jemariku, yang notabene belum ada satu pun member dari cucu keluarga besar yang modelnya sepertiku.
Spontan nafasku seperti tertahan ketika mendengarnya sudah tidak sadarkan diri selama beberapa hari lamanya… Aku ingin melihatnya!, pintaku. Aku ingin melihatnya menyambutku di pembaringannya dan menghiburnya seperti dulu…Aku memang bukan cucu yang selalu dilihatnya setiap hari. Bukanlah anak yang selalu menyapanya seperti yang sanak saudara yang lain. Namun hanya dengan melihat beliau hati ini sudah merasa cukup gembira memperhatikannya tertawa melihat cicitnya yang berlenggak lenggok dengan gaya centilnya sambil berlari kian kemari sekedar mencari perhatiannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam lewat beberapa menit..harap-harap cemas sudah menyelimuti pikiranku hingga akupun tak mampu bertanya-tanya lagi kepada tante dan kakekku yang menjemputku dan Mama di rumah. Akhirnya kita pun berangkat ke rumah sakit yang lumayan jauh dari rumah. Ruangan beliau adalah ruangan yang sama ditempatinya pada saat itu, Ruang Kardiologi. Hanya beberapa langkah saja kaki harus berjalan menelusuri koridor rumah sakit.
Namun satu hal yang beda, tak terlihat lagi wajahnya yang menyambutku dengan senyum indahnya. Beliau hanya bisa mendengar atau masih merasakan sentuhan orang-orang yang melihatnya dengan wajah penuh duka. Dahulu selang yang melingkar hanya di lengannya dari sekedar botol obat. Namun sekarang…selang yang terulur di sekujur tubuhnya semakin membuatnya seperti jasad tanpa daya.
Di balik tirai hijau yang menyelimuti ruang pembaringnya, aku tidak mampu lagi berucap apa-apa. Ummi, istri tercinta beliau memintaku untuk membantu mentalqinnya. Tanpa berbicara lagi..aku bersegera memegang dahinya dan menatap wajahnya dan membisikkannya kalimat agung “ Laa ilaa ha illallah…”
Sesekali beliau membalik-balikkan wajahnya, namun tak sanggup lagi berbicara. Desah nafasnya yang tersengal-sengal membuatku tak mampu menahan air mata ketika mentalqinnya. Ya Allah, mudahkanlah kepergiannya jika memang tanda-tanda ini kautunjukkan pada kami bahwa tak lama lagi Engkau akan mengambil jiwanya….ya Allah, mudahkanlah ia menghadapi sakaratnya…
Satu jam tak terasa telah berlalu…ku buka kembali surah al-Fath dan beberapa surah dari quraan juz 28. Setidaknya aku ingin beliau mendengar ayat-ayat Allah yang begitu mulia sebelum ia meninggalkan dunia yang fana ini. Ar-Rahmaan…’allamal qur’aan,… Idzaa waqa’Atil Waa qi’ah… Sesekali ada ayat-ayat yang kupilih dan diulang-ulang agar beliau senantiasa mampu mengambil manfaat dari apa yang diperdengarkannya. Badan beliau hangat..namun terkadang kembali dingin ketika tidak ada lagi yang menyapanya meskipun dengan sebuah ayat yang dibisikkan di telinganya. Aku ingin selalu memeluknya dengan harapan itu mampu membuatnya lebih tenang.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suster pun datang melihat keadaannya. Tampak senyum bergurat kecemasan Nampak di wajahnya. Sepertinya ia berusaha membuat kita semua agar tetap tenang. Ia pun menuangkan susu ke dalam gelas dan mengambil air di dalam sebuah botol air. Tak berhenti kutatap pergerakan suster itu. Terlalu banyak kecurigaan yang terbersit di pikiran jika berada di dalam rumah sakit ini. Terkadang perawat dan dokternya memberikan pelayanan seadanya saja. Apalagi dengan Dato’, mungkin di pikiran mereka hanya menunggu waktu saja. Hanya menghabiskan obat dan cairan makanan dan akhirnya selesai. Beliau pun meminum susu yang dimasukkan di dalam selang hidungnya yang berhubungan langsung dengan lambung. Subhanallah…beliau benar-benar tidak berdaya.
Wajah Ummi sudah sangat terlihat pucat, kakinya masya Allah sudah mulai membengkak. Sudah lama beliau berdiri di samping pembaringan suami yang sangat dicintainya itu. Kecintaannya membuat beliau lebih memilih mendampingi, men-talqin dan mengusap wajah Datok ketimbang beristirahat. Wajah sendunya telah memudarkan rona wajah beliau yang biasa terlihat. Tante Anti , Tante Ida, Tante Lina beserta semua keluarga tak henti-hentinya menjaga beliau. Untungnya aku membawa sebungkus buah duku yang bisa mengisi perut dan berbagi dengan mereka.
Rasanya aku tak ingin meninggalkan tempat ini hingga melihat kepergian beliau, namun Mama dan Tata’ Aji ternyata sudah lelah dan belum makan malam sama sekali. Petta Lely apalagi, yang mengemudi padahal beliau juga baru saja pulang dari tempat kerja. Subhanallah. Aku tak ingin meninggalkan Dato’.. Namun, tak lama kemudian tubuhnya menghangat kembali, nafasnya tidak tersengal seperti sebelumnya. Mungkin beliau sudah cukup tenang dan tertidur.
Aku pun beranjak dari kursi di samping pembaringannya.. Lalu menyalami semua tante, anak-anak yang amat dikasihi Dato’ juga cucu-cucunya yang masih setia menunggunya di luar. Kembali kutengok beliau, rasanya berat untuk meninggalkannya. Mungkin inilah saat terakhir aku bertemu dengannya di dunia yang fana ini. Akhirnya, sebelum pergi…aku pun meremas tangannya untuk menyalaminya, Tak henti-hentinya kukecup tangannya yang tiba-tiba menggenggam tanganku erat sekali.
Dekapan tangannya sepertinya mengisyaratkanku untuk tetap tinggal . Namun malam sudah semakin larut. Aku khawatir kesehatanku juga akan menurun jika memaksakan diri. Assalaamu’alaykum Dato…sahutku.
Matahari telah terbit, masih kubertanya-tanya bagaimana keadaaan Datok di sana?. Semoga ia baik-baik saja. Alhamdulillah, tidak ada kabar berita dari telepon yang kami dapatkan dari rumah sakit. Siapa tahu kondisi Datok menguat dan akhirnya bisa pulih seperti dulu…
Handphone Mama berdering…Kurang lebih pukul 12 lewat 50 menit.. Aku bersama seorang murid yang sedang belajar di rumah mendengarnya dari kamarku. “ Apa?? Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun …”
Subhanallah, pundakku tiba-tiba lemah lunglai. Pandanganku seperti kosong. Tak mampu lagi mengucapkan kata-kata…muridku melihat gerikku yang sudah gerasak gerusuk menghubungi ibunya. Setelah ini, seisi rumah harus pergi ke rumah beliau,nak, ucapku kepada Tika, my beloved student.
Pukul tiga lewat lima menit, akhirnya aku melangkahkan kaki bersama Bapak dan Mama menuju ke pembaringannya yang telah dapat kulihat dari kejauhan..
”Datok sudah tiba…”, pintaku dalam hati.
Langkahku semakin lama semakin cepat seolah tak mampu lagi kutahan kesedihan ini. … Ternyata kejadian ini berulang kembali seperti Ibu Aji dulu. Yang ada tinggal jasadnya saja… Aku tidak sempat memndampinginya di saat-saat hembusan nafasnya yang terakhir.
Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun..
Subhanallah, aku teringat Baginda Rasulullah sewaktu anaknya, Ibrahim wafat. Meleleh air mata beliau namun beliau tetap saja mengucapkan kata-kata kebaikan.
Tak henti-hentinya aku ingin memeluknya…mengecup keningnya..
Dato’, maafkan kalau aku punya salah. Maafkan segala kesalahan anak-anakmu, cucu-cucumu yang pernah mendurhakaimu atau mungkin pernah menyakiti hatimu. Dato’, kami akan selalu mendampingi dirimu dengan doa…
Allahummagfirlahu warhamhu wa’aafiihu..
Wa’fuanhu,, wa akrim nuzulahu , wa wassi’mudkhalahu… Yaa Arhamarraahimiin…
Perih terasa kepala ini dibuat, mungkin kesedihanku terlalu dalam ya Rabb…Astagfirullah…
Keesokan harinya…saatnya keluarga membawanya ke persitirahatan terakhir Datok. Ternyata diputuskan Datok akan di makamkan di Sudiang. It means, tempat peristirahatan Ibu Aji dan Ambo’ juga disana. Tak sabar aku ingin melihat kuburan mereka di sana…
Satu per satu anak dan cucunya mengecup dan mengusap kening Datok. Itulah kali terakhir mereka menyentuh Datok dengan penuh kasih. Aku tak sanggup lagi menyentuhnya…Perasaan sedihku kukhawatirkan akan membuat perasaanku semakin tidak stabil.
Pukul 11.25 , Alhamdulillah…Datok Ali telah berada dibaringkan di tempat peristirahatannya. Stu per satu menatap sedih, sendu, memandang melambung jauh…memikirkan kejadian apa yang ada di hadapan mereka. Ada yang mendoakan, berbisik bercerita tentang beliau…Subhanallah. Tersadarku bahwa satu per satu di antara saksi hidup yang berdiri di tempat ini juga akan menyusul. Namun entah hingga kapan tiba waktunya. Datok…insya Allah aku akan selalu mendoakanmu, Datok. Semoga doa yang kupanjatkan bisa menjadi penyelamat yang mendampingimu di alam barzakh. Semoga Allah Yang Maha Mulia, Maha Mengampuni, memudahkanmu menghadapi pertanyaan kedua malaikat-Nya yang diutus untuk menanyaimu tentang tiga perkara penting…yang telah kau ajarkan kepada anak cucumu di dunia…dan semoga…setelah itu, Allah meluaskan kuburmu dan memberikanmu ranjang yang lebih baik dari dunia dan segala isinya untukmu beristirahat. Aku memang bukan cucumu yang selalu kau lihat setiap hari. Bukanlah anak yang selalu menyapamu seperti yang sanak saudara yang lain. Namun semoga hadiah doa yang kuberikan pada Rabb Yang Kucinta mampu membuatmu tak pernah melepaskan rekah senyummu di sana…
Detik-Detik Terakhir Bersamanya…
Bismillah…ku tuliskan cerita ini untuk mengobati kerinduan yang amat dalam kepada Datok Ali Mannan, kakek tercinta rahimahullah…adik dari Ibu Aji tercinta semoga Allah meridhai-Nya..
Berita tentang kambuhnya penyakit jantung yang dideritanya baru saja terdengar setelah kepindahannya yang sudah ketiga kali di Rumah Sakit. Aku pun teringat ketika beliau saat itu juga beliau pernah berada terbaring sakit di sana, masih sempat menyapaku dengan senyum penuh merekah… meskipun selang bius mengelilingi lengannya yang kekar. Betapa senangnya hati ini pada saat beliau menyapaku, beberapa hari kemudian beliau telah sehat kembali dan masih sempat menikmati santapan makanan di hari Ied tahun kemarin.
Sudah lama aku tak bersua dengannya karena banyak amanah pekerjaan yang menjadi rutinitas harianku selama ini. Itulah kelebihan beliau di usianya yang ketujuh puluh satu, meskipun kita jarang bersua namun beliau masih mengingat jelas siapa cucu-cucunya dan masih sempat berbagi keceriaan bersama kami. Aku tahu beliau tak pernah melupakan cucu-cucunya karena sepanjang hidup beliau dikelilingi oleh qurrata a’yun yang senantiasa menyertainya di rumah. Masih teringat ketika kita bersama menuju acara pernikahan keluarga di Soppeng, beliau tersenyum dan memujiku mengenakan jilbab jatuh menutup ujung jemariku, yang notabene belum ada satu pun member dari cucu keluarga besar yang modelnya sepertiku.
Spontan nafasku seperti tertahan ketika mendengarnya sudah tidak sadarkan diri selama beberapa hari lamanya… Aku ingin melihatnya!, pintaku. Aku ingin melihatnya menyambutku di pembaringannya dan menghiburnya seperti dulu…Aku memang bukan cucu yang selalu dilihatnya setiap hari. Bukanlah anak yang selalu menyapanya seperti yang sanak saudara yang lain. Namun hanya dengan melihat beliau hati ini sudah merasa cukup gembira memperhatikannya tertawa melihat cicitnya yang berlenggak lenggok dengan gaya centilnya sambil berlari kian kemari sekedar mencari perhatiannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam lewat beberapa menit..harap-harap cemas sudah menyelimuti pikiranku hingga akupun tak mampu bertanya-tanya lagi kepada tante dan kakekku yang menjemputku dan Mama di rumah. Akhirnya kita pun berangkat ke rumah sakit yang lumayan jauh dari rumah. Ruangan beliau adalah ruangan yang sama ditempatinya pada saat itu, Ruang Kardiologi. Hanya beberapa langkah saja kaki harus berjalan menelusuri koridor rumah sakit.
Namun satu hal yang beda, tak terlihat lagi wajahnya yang menyambutku dengan senyum indahnya. Beliau hanya bisa mendengar atau masih merasakan sentuhan orang-orang yang melihatnya dengan wajah penuh duka. Dahulu selang yang melingkar hanya di lengannya dari sekedar botol obat. Namun sekarang…selang yang terulur di sekujur tubuhnya semakin membuatnya seperti jasad tanpa daya.
Di balik tirai hijau yang menyelimuti ruang pembaringnya, aku tidak mampu lagi berucap apa-apa. Ummi, istri tercinta beliau memintaku untuk membantu mentalqinnya. Tanpa berbicara lagi..aku bersegera memegang dahinya dan menatap wajahnya dan membisikkannya kalimat agung “ Laa ilaa ha illallah…”
Sesekali beliau membalik-balikkan wajahnya, namun tak sanggup lagi berbicara. Desah nafasnya yang tersengal-sengal membuatku tak mampu menahan air mata ketika mentalqinnya. Ya Allah, mudahkanlah kepergiannya jika memang tanda-tanda ini kautunjukkan pada kami bahwa tak lama lagi Engkau akan mengambil jiwanya….ya Allah, mudahkanlah ia menghadapi sakaratnya…
Satu jam tak terasa telah berlalu…ku buka kembali surah al-Fath dan beberapa surah dari quraan juz 28. Setidaknya aku ingin beliau mendengar ayat-ayat Allah yang begitu mulia sebelum ia meninggalkan dunia yang fana ini. Ar-Rahmaan…’allamal qur’aan,… Idzaa waqa’Atil Waa qi’ah… Sesekali ada ayat-ayat yang kupilih dan diulang-ulang agar beliau senantiasa mampu mengambil manfaat dari apa yang diperdengarkannya. Badan beliau hangat..namun terkadang kembali dingin ketika tidak ada lagi yang menyapanya meskipun dengan sebuah ayat yang dibisikkan di telinganya. Aku ingin selalu memeluknya dengan harapan itu mampu membuatnya lebih tenang.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suster pun datang melihat keadaannya. Tampak senyum bergurat kecemasan Nampak di wajahnya. Sepertinya ia berusaha membuat kita semua agar tetap tenang. Ia pun menuangkan susu ke dalam gelas dan mengambil air di dalam sebuah botol air. Tak berhenti kutatap pergerakan suster itu. Terlalu banyak kecurigaan yang terbersit di pikiran jika berada di dalam rumah sakit ini. Terkadang perawat dan dokternya memberikan pelayanan seadanya saja. Apalagi dengan Dato’, mungkin di pikiran mereka hanya menunggu waktu saja. Hanya menghabiskan obat dan cairan makanan dan akhirnya selesai. Beliau pun meminum susu yang dimasukkan di dalam selang hidungnya yang berhubungan langsung dengan lambung. Subhanallah…beliau benar-benar tidak berdaya.
Wajah Ummi sudah sangat terlihat pucat, kakinya masya Allah sudah mulai membengkak. Sudah lama beliau berdiri di samping pembaringan suami yang sangat dicintainya itu. Kecintaannya membuat beliau lebih memilih mendampingi, men-talqin dan mengusap wajah Datok ketimbang beristirahat. Wajah sendunya telah memudarkan rona wajah beliau yang biasa terlihat. Tante Anti , Tante Ida, Tante Lina beserta semua keluarga tak henti-hentinya menjaga beliau. Untungnya aku membawa sebungkus buah duku yang bisa mengisi perut dan berbagi dengan mereka.
Rasanya aku tak ingin meninggalkan tempat ini hingga melihat kepergian beliau, namun Mama dan Tata’ Aji ternyata sudah lelah dan belum makan malam sama sekali. Petta Lely apalagi, yang mengemudi padahal beliau juga baru saja pulang dari tempat kerja. Subhanallah. Aku tak ingin meninggalkan Dato’.. Namun, tak lama kemudian tubuhnya menghangat kembali, nafasnya tidak tersengal seperti sebelumnya. Mungkin beliau sudah cukup tenang dan tertidur.
Aku pun beranjak dari kursi di samping pembaringannya.. Lalu menyalami semua tante, anak-anak yang amat dikasihi Dato’ juga cucu-cucunya yang masih setia menunggunya di luar. Kembali kutengok beliau, rasanya berat untuk meninggalkannya. Mungkin inilah saat terakhir aku bertemu dengannya di dunia yang fana ini. Akhirnya, sebelum pergi…aku pun meremas tangannya untuk menyalaminya, Tak henti-hentinya kukecup tangannya yang tiba-tiba menggenggam tanganku erat sekali.
Dekapan tangannya sepertinya mengisyaratkanku untuk tetap tinggal . Namun malam sudah semakin larut. Aku khawatir kesehatanku juga akan menurun jika memaksakan diri. Assalaamu’alaykum Dato…sahutku.
Matahari telah terbit, masih kubertanya-tanya bagaimana keadaaan Datok di sana?. Semoga ia baik-baik saja. Alhamdulillah, tidak ada kabar berita dari telepon yang kami dapatkan dari rumah sakit. Siapa tahu kondisi Datok menguat dan akhirnya bisa pulih seperti dulu…
Handphone Mama berdering…Kurang lebih pukul 12 lewat 50 menit.. Aku bersama seorang murid yang sedang belajar di rumah mendengarnya dari kamarku. “ Apa?? Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun …”
Subhanallah, pundakku tiba-tiba lemah lunglai. Pandanganku seperti kosong. Tak mampu lagi mengucapkan kata-kata…muridku melihat gerikku yang sudah gerasak gerusuk menghubungi ibunya. Setelah ini, seisi rumah harus pergi ke rumah beliau,nak, ucapku kepada Tika, my beloved student.
Pukul tiga lewat lima menit, akhirnya aku melangkahkan kaki bersama Bapak dan Mama menuju ke pembaringannya yang telah dapat kulihat dari kejauhan..
”Datok sudah tiba…”, pintaku dalam hati.
Langkahku semakin lama semakin cepat seolah tak mampu lagi kutahan kesedihan ini. … Ternyata kejadian ini berulang kembali seperti Ibu Aji dulu. Yang ada tinggal jasadnya saja… Aku tidak sempat memndampinginya di saat-saat hembusan nafasnya yang terakhir.
Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun..
Subhanallah, aku teringat Baginda Rasulullah sewaktu anaknya, Ibrahim wafat. Meleleh air mata beliau namun beliau tetap saja mengucapkan kata-kata kebaikan.
Tak henti-hentinya aku ingin memeluknya…mengecup keningnya..
Dato’, maafkan kalau aku punya salah. Maafkan segala kesalahan anak-anakmu, cucu-cucumu yang pernah mendurhakaimu atau mungkin pernah menyakiti hatimu. Dato’, kami akan selalu mendampingi dirimu dengan doa…
Allahummagfirlahu warhamhu wa’aafiihu..
Wa’fuanhu,, wa akrim nuzulahu , wa wassi’mudkhalahu… Yaa Arhamarraahimiin…
Perih terasa kepala ini dibuat, mungkin kesedihanku terlalu dalam ya Rabb…Astagfirullah…
Keesokan harinya…saatnya keluarga membawanya ke persitirahatan terakhir Datok. Ternyata diputuskan Datok akan di makamkan di Sudiang. It means, tempat peristirahatan Ibu Aji dan Ambo’ juga disana. Tak sabar aku ingin melihat kuburan mereka di sana…
Satu per satu anak dan cucunya mengecup dan mengusap kening Datok. Itulah kali terakhir mereka menyentuh Datok dengan penuh kasih. Aku tak sanggup lagi menyentuhnya…Perasaan sedihku kukhawatirkan akan membuat perasaanku semakin tidak stabil.
Pukul 11.25 , Alhamdulillah…Datok Ali telah berada dibaringkan di tempat peristirahatannya. Stu per satu menatap sedih, sendu, memandang melambung jauh…memikirkan kejadian apa yang ada di hadapan mereka. Ada yang mendoakan, berbisik bercerita tentang beliau…Subhanallah. Tersadarku bahwa satu per satu di antara saksi hidup yang berdiri di tempat ini juga akan menyusul. Namun entah hingga kapan tiba waktunya. Datok…insya Allah aku akan selalu mendoakanmu, Datok. Semoga doa yang kupanjatkan bisa menjadi penyelamat yang mendampingimu di alam barzakh. Semoga Allah Yang Maha Mulia, Maha Mengampuni, memudahkanmu menghadapi pertanyaan kedua malaikat-Nya yang diutus untuk menanyaimu tentang tiga perkara penting…yang telah kau ajarkan kepada anak cucumu di dunia…dan semoga…setelah itu, Allah meluaskan kuburmu dan memberikanmu ranjang yang lebih baik dari dunia dan segala isinya untukmu beristirahat. Aku memang bukan cucumu yang selalu kau lihat setiap hari. Bukanlah anak yang selalu menyapamu seperti yang sanak saudara yang lain. Namun semoga hadiah doa yang kuberikan pada Rabb Yang Kucinta mampu membuatmu tak pernah melepaskan rekah senyummu di sana…
Berita tentang kambuhnya penyakit jantung yang dideritanya baru saja terdengar setelah kepindahannya yang sudah ketiga kali di Rumah Sakit. Aku pun teringat ketika beliau saat itu juga beliau pernah berada terbaring sakit di sana, masih sempat menyapaku dengan senyum penuh merekah… meskipun selang bius mengelilingi lengannya yang kekar. Betapa senangnya hati ini pada saat beliau menyapaku, beberapa hari kemudian beliau telah sehat kembali dan masih sempat menikmati santapan makanan di hari Ied tahun kemarin.
Sudah lama aku tak bersua dengannya karena banyak amanah pekerjaan yang menjadi rutinitas harianku selama ini. Itulah kelebihan beliau di usianya yang ketujuh puluh satu, meskipun kita jarang bersua namun beliau masih mengingat jelas siapa cucu-cucunya dan masih sempat berbagi keceriaan bersama kami. Aku tahu beliau tak pernah melupakan cucu-cucunya karena sepanjang hidup beliau dikelilingi oleh qurrata a’yun yang senantiasa menyertainya di rumah. Masih teringat ketika kita bersama menuju acara pernikahan keluarga di Soppeng, beliau tersenyum dan memujiku mengenakan jilbab jatuh menutup ujung jemariku, yang notabene belum ada satu pun member dari cucu keluarga besar yang modelnya sepertiku.
Spontan nafasku seperti tertahan ketika mendengarnya sudah tidak sadarkan diri selama beberapa hari lamanya… Aku ingin melihatnya!, pintaku. Aku ingin melihatnya menyambutku di pembaringannya dan menghiburnya seperti dulu…Aku memang bukan cucu yang selalu dilihatnya setiap hari. Bukanlah anak yang selalu menyapanya seperti yang sanak saudara yang lain. Namun hanya dengan melihat beliau hati ini sudah merasa cukup gembira memperhatikannya tertawa melihat cicitnya yang berlenggak lenggok dengan gaya centilnya sambil berlari kian kemari sekedar mencari perhatiannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam lewat beberapa menit..harap-harap cemas sudah menyelimuti pikiranku hingga akupun tak mampu bertanya-tanya lagi kepada tante dan kakekku yang menjemputku dan Mama di rumah. Akhirnya kita pun berangkat ke rumah sakit yang lumayan jauh dari rumah. Ruangan beliau adalah ruangan yang sama ditempatinya pada saat itu, Ruang Kardiologi. Hanya beberapa langkah saja kaki harus berjalan menelusuri koridor rumah sakit.
Namun satu hal yang beda, tak terlihat lagi wajahnya yang menyambutku dengan senyum indahnya. Beliau hanya bisa mendengar atau masih merasakan sentuhan orang-orang yang melihatnya dengan wajah penuh duka. Dahulu selang yang melingkar hanya di lengannya dari sekedar botol obat. Namun sekarang…selang yang terulur di sekujur tubuhnya semakin membuatnya seperti jasad tanpa daya.
Di balik tirai hijau yang menyelimuti ruang pembaringnya, aku tidak mampu lagi berucap apa-apa. Ummi, istri tercinta beliau memintaku untuk membantu mentalqinnya. Tanpa berbicara lagi..aku bersegera memegang dahinya dan menatap wajahnya dan membisikkannya kalimat agung “ Laa ilaa ha illallah…”
Sesekali beliau membalik-balikkan wajahnya, namun tak sanggup lagi berbicara. Desah nafasnya yang tersengal-sengal membuatku tak mampu menahan air mata ketika mentalqinnya. Ya Allah, mudahkanlah kepergiannya jika memang tanda-tanda ini kautunjukkan pada kami bahwa tak lama lagi Engkau akan mengambil jiwanya….ya Allah, mudahkanlah ia menghadapi sakaratnya…
Satu jam tak terasa telah berlalu…ku buka kembali surah al-Fath dan beberapa surah dari quraan juz 28. Setidaknya aku ingin beliau mendengar ayat-ayat Allah yang begitu mulia sebelum ia meninggalkan dunia yang fana ini. Ar-Rahmaan…’allamal qur’aan,… Idzaa waqa’Atil Waa qi’ah… Sesekali ada ayat-ayat yang kupilih dan diulang-ulang agar beliau senantiasa mampu mengambil manfaat dari apa yang diperdengarkannya. Badan beliau hangat..namun terkadang kembali dingin ketika tidak ada lagi yang menyapanya meskipun dengan sebuah ayat yang dibisikkan di telinganya. Aku ingin selalu memeluknya dengan harapan itu mampu membuatnya lebih tenang.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suster pun datang melihat keadaannya. Tampak senyum bergurat kecemasan Nampak di wajahnya. Sepertinya ia berusaha membuat kita semua agar tetap tenang. Ia pun menuangkan susu ke dalam gelas dan mengambil air di dalam sebuah botol air. Tak berhenti kutatap pergerakan suster itu. Terlalu banyak kecurigaan yang terbersit di pikiran jika berada di dalam rumah sakit ini. Terkadang perawat dan dokternya memberikan pelayanan seadanya saja. Apalagi dengan Dato’, mungkin di pikiran mereka hanya menunggu waktu saja. Hanya menghabiskan obat dan cairan makanan dan akhirnya selesai. Beliau pun meminum susu yang dimasukkan di dalam selang hidungnya yang berhubungan langsung dengan lambung. Subhanallah…beliau benar-benar tidak berdaya.
Wajah Ummi sudah sangat terlihat pucat, kakinya masya Allah sudah mulai membengkak. Sudah lama beliau berdiri di samping pembaringan suami yang sangat dicintainya itu. Kecintaannya membuat beliau lebih memilih mendampingi, men-talqin dan mengusap wajah Datok ketimbang beristirahat. Wajah sendunya telah memudarkan rona wajah beliau yang biasa terlihat. Tante Anti , Tante Ida, Tante Lina beserta semua keluarga tak henti-hentinya menjaga beliau. Untungnya aku membawa sebungkus buah duku yang bisa mengisi perut dan berbagi dengan mereka.
Rasanya aku tak ingin meninggalkan tempat ini hingga melihat kepergian beliau, namun Mama dan Tata’ Aji ternyata sudah lelah dan belum makan malam sama sekali. Petta Lely apalagi, yang mengemudi padahal beliau juga baru saja pulang dari tempat kerja. Subhanallah. Aku tak ingin meninggalkan Dato’.. Namun, tak lama kemudian tubuhnya menghangat kembali, nafasnya tidak tersengal seperti sebelumnya. Mungkin beliau sudah cukup tenang dan tertidur.
Aku pun beranjak dari kursi di samping pembaringannya.. Lalu menyalami semua tante, anak-anak yang amat dikasihi Dato’ juga cucu-cucunya yang masih setia menunggunya di luar. Kembali kutengok beliau, rasanya berat untuk meninggalkannya. Mungkin inilah saat terakhir aku bertemu dengannya di dunia yang fana ini. Akhirnya, sebelum pergi…aku pun meremas tangannya untuk menyalaminya, Tak henti-hentinya kukecup tangannya yang tiba-tiba menggenggam tanganku erat sekali.
Dekapan tangannya sepertinya mengisyaratkanku untuk tetap tinggal . Namun malam sudah semakin larut. Aku khawatir kesehatanku juga akan menurun jika memaksakan diri. Assalaamu’alaykum Dato…sahutku.
Matahari telah terbit, masih kubertanya-tanya bagaimana keadaaan Datok di sana?. Semoga ia baik-baik saja. Alhamdulillah, tidak ada kabar berita dari telepon yang kami dapatkan dari rumah sakit. Siapa tahu kondisi Datok menguat dan akhirnya bisa pulih seperti dulu…
Handphone Mama berdering…Kurang lebih pukul 12 lewat 50 menit.. Aku bersama seorang murid yang sedang belajar di rumah mendengarnya dari kamarku. “ Apa?? Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun …”
Subhanallah, pundakku tiba-tiba lemah lunglai. Pandanganku seperti kosong. Tak mampu lagi mengucapkan kata-kata…muridku melihat gerikku yang sudah gerasak gerusuk menghubungi ibunya. Setelah ini, seisi rumah harus pergi ke rumah beliau,nak, ucapku kepada Tika, my beloved student.
Pukul tiga lewat lima menit, akhirnya aku melangkahkan kaki bersama Bapak dan Mama menuju ke pembaringannya yang telah dapat kulihat dari kejauhan..
”Datok sudah tiba…”, pintaku dalam hati.
Langkahku semakin lama semakin cepat seolah tak mampu lagi kutahan kesedihan ini. … Ternyata kejadian ini berulang kembali seperti Ibu Aji dulu. Yang ada tinggal jasadnya saja… Aku tidak sempat memndampinginya di saat-saat hembusan nafasnya yang terakhir.
Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun..
Subhanallah, aku teringat Baginda Rasulullah sewaktu anaknya, Ibrahim wafat. Meleleh air mata beliau namun beliau tetap saja mengucapkan kata-kata kebaikan.
Tak henti-hentinya aku ingin memeluknya…mengecup keningnya..
Dato’, maafkan kalau aku punya salah. Maafkan segala kesalahan anak-anakmu, cucu-cucumu yang pernah mendurhakaimu atau mungkin pernah menyakiti hatimu. Dato’, kami akan selalu mendampingi dirimu dengan doa…
Allahummagfirlahu warhamhu wa’aafiihu..
Wa’fuanhu,, wa akrim nuzulahu , wa wassi’mudkhalahu… Yaa Arhamarraahimiin…
Perih terasa kepala ini dibuat, mungkin kesedihanku terlalu dalam ya Rabb…Astagfirullah…
Keesokan harinya…saatnya keluarga membawanya ke persitirahatan terakhir Datok. Ternyata diputuskan Datok akan di makamkan di Sudiang. It means, tempat peristirahatan Ibu Aji dan Ambo’ juga disana. Tak sabar aku ingin melihat kuburan mereka di sana…
Satu per satu anak dan cucunya mengecup dan mengusap kening Datok. Itulah kali terakhir mereka menyentuh Datok dengan penuh kasih. Aku tak sanggup lagi menyentuhnya…Perasaan sedihku kukhawatirkan akan membuat perasaanku semakin tidak stabil.
Pukul 11.25 , Alhamdulillah…Datok Ali telah berada dibaringkan di tempat peristirahatannya. Stu per satu menatap sedih, sendu, memandang melambung jauh…memikirkan kejadian apa yang ada di hadapan mereka. Ada yang mendoakan, berbisik bercerita tentang beliau…Subhanallah. Tersadarku bahwa satu per satu di antara saksi hidup yang berdiri di tempat ini juga akan menyusul. Namun entah hingga kapan tiba waktunya. Datok…insya Allah aku akan selalu mendoakanmu, Datok. Semoga doa yang kupanjatkan bisa menjadi penyelamat yang mendampingimu di alam barzakh. Semoga Allah Yang Maha Mulia, Maha Mengampuni, memudahkanmu menghadapi pertanyaan kedua malaikat-Nya yang diutus untuk menanyaimu tentang tiga perkara penting…yang telah kau ajarkan kepada anak cucumu di dunia…dan semoga…setelah itu, Allah meluaskan kuburmu dan memberikanmu ranjang yang lebih baik dari dunia dan segala isinya untukmu beristirahat. Aku memang bukan cucumu yang selalu kau lihat setiap hari. Bukanlah anak yang selalu menyapamu seperti yang sanak saudara yang lain. Namun semoga hadiah doa yang kuberikan pada Rabb Yang Kucinta mampu membuatmu tak pernah melepaskan rekah senyummu di sana…
Saturday, February 20, 2010
Sepucuk surat dari seorang Ayah
Asslm...ayah, jika suatu saat kau membaca kembali surat ini, semoga engkau ayah merasakan betapa dalamnya rasa bersalah ini. semoga bermanfaat bagi pembaca lainnya yang memiliki atau telah memiliki ayah terbaik yang telah dianugerahkan oleh Al-Khaliq
09 Juli 2004 - 10:28
Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang laki-laki kepada seorang laki-laki; surat seorang ayah kepada seorang ayah.
Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.
Nak, menjadi ayah itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah dengan anak-anaknya.
Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun. Bahkan dihadapan Tuhan, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan Nya, hingga saat usia senja ini.
Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah cintaku dan ibumu. Sebagai bukti, bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan oleh apapun jua. Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata: "TIDAK", timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya. Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak. Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah milik Tuhan. Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan.
Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi, kusesali kesalahanku itu sepenuh -penuh air mata dihadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.
Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena Nya, bukan karena kau dan ibumu. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.
Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Tuhan. Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu sulit.
Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain. Agar dapat kau rasakan perjalanan ruhaniah yang sebenarnya.
Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti, Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.
Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia. Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan. Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya. Dari ayah yang senantiasa merindukanmu. (disalin dari lembaran da'wah "MISYKAT" No.8)
from : http://www.dudung.net/artikelislami.html
09 Juli 2004 - 10:28
Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang laki-laki kepada seorang laki-laki; surat seorang ayah kepada seorang ayah.
Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.
Nak, menjadi ayah itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah dengan anak-anaknya.
Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun. Bahkan dihadapan Tuhan, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan Nya, hingga saat usia senja ini.
Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah cintaku dan ibumu. Sebagai bukti, bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan oleh apapun jua. Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata: "TIDAK", timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya. Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak. Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah milik Tuhan. Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan.
Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi, kusesali kesalahanku itu sepenuh -penuh air mata dihadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.
Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena Nya, bukan karena kau dan ibumu. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.
Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Tuhan. Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu sulit.
Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain. Agar dapat kau rasakan perjalanan ruhaniah yang sebenarnya.
Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti, Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.
Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia. Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan. Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya. Dari ayah yang senantiasa merindukanmu. (disalin dari lembaran da'wah "MISYKAT" No.8)
from : http://www.dudung.net/artikelislami.html
Tanganmu, Ibu.
Alhamdulillah, artikel ini dari blog favorit saya, semoga kasih sayang Allah Yang Maha Mulia dan tercurah melalui bunda tercinta selalu mengalir ke hati dan jiwa yang dhaif ini.
Ibumu adalah
Ibunda darah dagingmu
Tundukkan mukamu
Bungkukkan badanmu
Raih punggung tangan beliau
Ciumlah dalam-dalam
Hiruplah wewangian cintanya
Dan rasukkan ke dalam kalbumu
Agar menjadi azimah bagi rizki dan kebahagiaan
(Emha Ainun Najib)
Siang sudah sampai pada pertengahan. Dan Ibu begitu anggun menjumpai saya di depan pintu. Gegas saya rengkuh punggung tangannya, menciumnya lama. Ternyata rindu padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ibu juga mendaratkan kecupan sayang di ubun-ubun ini, lama. "Alhamdulillah, kamu sudah pulang" itu ucapannya kemudian. Begitu masuk ke dalam rumah, saya mendapati ruangan yang sungguh bersih. Sudah lama tidak pulang.
Ba'da Ashar,
"Nak, tolong angkatin panci, airnya sudah mendidih". Gegas saya angkat pancinya dan dahipun berkerut, panci kecil itu diisi setengahnya. "Ah mungkin hanya untuk membuat beberapa gelas teh saja" pikir saya
"Eh, tolongin bawa ember ini ke depan, Ibu mau menyiram". Sebuah ember putih ukuran sedang telah terisi air, juga setengahnya. Saya memindahkannya ke halaman depan dengan mudahnya. Saya pandangi bunga-bunga peliharaan Ibu. Subur dan terawat. Dari dulu Ibu suka sekali menanam bunga.
"Nak, Ibu baru saja mencuci sarung, peras dulu, abis itu jemur di pagar yah" pinta Ibu.
"Eh, bantuin Ibu potongin daging ayam" sekilas saya memandang Ibu yang tengah bersusah payah memasak. Tumben Ibu begitu banyak meminta bantuan, biasanya beliau anteng dan cekatan dalam segala hal.
Sesosok wanita muda, sedang menyapu ketika saya masuk rumah sepulang dari ziarah. "Neng.." itu sapanya, kepalanya mengangguk ke arah saya. "Bu, siapa itu.?" tanya saya. "Oh itu yang bantu-bantu Ibu sekarang" pendeknya. Dan saya semakin termangu, dari dulu Ibu paling tidak suka mengeluarkan uang untuk mengupah orang lain dalam pekerjaan rumah tangga. Pantesan rumah terlihat lebih bersih dari biasanya.
Dan, semua pertanyaan itu seakan terjawab ketika saya menemaninya tilawah selepas maghrib. Tangan Ibu gemetar memegang penunjuk yang terbuat dari kertas koran yang dipilin kecil, menelusuri tiap huruf al-qur'an. Dan mata ini memandang lekat pada jemarinya. Keriput, urat-uratnya menonjol jelas, bukan itu yang membuat saya tertegun. Tangan itu terus bergetar. Saya berpaling, menyembunyikan bening kristal yang tiba-tiba muncul di kelopak mata. Mungkinkah segala bantuan yang ia minta sejak saya pulang, karena tangannya tak lagi paripurna melakukan banyak hal?
"Dingin" bisik saya, sambil beringsut membenamkan kepala di pangkuannya. Ibu masih terus tilawah, sedang tangan kirinya membelai kepala saya. Saya memeluknya, merengkuh banyak kehangatan yang dilimpahkannya tak berhingga.
Adzan isya berkumandang,
Ibu berdiri di samping saya, bersiap menjadi imam. Tak lama suaranya memenuhi udara mushala kecil rumah. Seperti biasa surat cinta yang dibacanya selalu itu, Ad-Dhuha dan At-Thariq.
Usai shalat, saya menunggunya membaca wirid, dan seperti tadi saya pandangi lagi tangannya yang terus bergetar. "Duh Allah, sayangi Mamah" spontan saya memohon. "Neng." suara ibu membuyarkan lamunan itu, kini tangannya terangsur di depan saya, kebiasaan saat selesai shalat, saya rengkuh tangan berkah itu dan menciumnya.
"Tangan ibu kenapa?" tanya saya pelan. Sebelum menjawab, ibu tersenyum maniss sekali.
"Penyakit orang tua"
"Sekarang tangan ibu hanya mampu melakukan yang ringan-ringan saja, irit tenaga" tambahnya.
Udara semakin dingin. Bintang-bintang di langit kian gemerlap berlatarkan langit biru tak berpenyangga. Saya memandangnya dari teras depan rumah. Ada bulan yang sudah memerak sejak tadi. Malam perlahan beranjak jauh. Dalam hening itu, saya membayangkan senyuman manis Ibu sehabis shalat isya tadi. Apa maksudnya? Dan mengapakah, saya seperti melayang. Telah banyak hal yang dipersembahkan tangannya untuk saya. Tangan yang tak pernah mencubit, sejengkel apapun perasaannya menghadapi kenakalan saya. Tangan yang selalu berangsur ke kepala dan membetulkan letak jilbab ketika saya tergesa pergi sekolah. Tangan yang selalu dan selalu mengelus lembut ketika saya mencari kekuatan di pangkuannya saat hati saya bergemuruh. Tangan yang menengadah ketika memohon kepada Allah untuk setiap ujian yang saya jalani. Tangan yang pernah membuat bunga dari pita-pita berwarna dan menyimpannya di meja belajar saya ketika saya masih kecil yang katanya biar saya lebih semangat belajar.
Sewaktu saya baru memasuki bangku kuliah dan harus tinggal jauh darinya, suratnya selalu saja datang. Tulisan tangannya kadang membuat saya mengerutkan dahi, pasalnya beberapa huruf terlihat sama, huruf n dan m nya mirip sekali. Ibu paling suka menulis surat dengan tulisan sambung. Dalam suratnya, selalu Ibu menyisipkan puisi yang diciptakannya sendiri. Ada sebuah puisinya yang saya sukai. Ibu memang suka menyanjung :
Kau adalah gemerlap bintang di langit malam
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana,
Bukan!, kau lebih dari itu,
Kau adalah benderang matahari di tiap waktu,
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah Sinopsis semesta
Itu saja.
Tangan ibunda adalah perpanjangan tangan Tuhan. Itu yang saya baca dari sebuah buku. Jika saya renungkan, memang demikian. Tangan seorang ibunda adalah perwujudan banyak hal : Kasih sayang, kesabaran, cinta, ketulusan.. Pernahkah ia pamrih setelah tangannya menyajikan masakan di meja makan untuk sarapan? Pernahkan Ia meminta upah dari tengadah jemari ketika mendoakan anaknya agar diberi Allah banyak kemudahan dalam menapaki hidup? Pernahkah Ia menagih uang atas jerih payah tangannya membereskan tempat tidur kita? Pernahkah ia mengungkap balasan atas semua persembahan tangannya?..Pernahkah..?
Ketika akan meninggalkannya untuk kembali, saya masih merajuknya "Bu, ikutlah ke jakarta, biar dekat dengan anak-anak". "Ah, Allah lebih perkasa di banding kalian, Dia menjaga Ibu dengan baik di sini. Kamu yang seharusnya sering datang, Ibu akan lebih senang" Jawabannya ringan. Tak ada air mata seperti saat-saat dulu melepas saya pergi. Ibu tampak lebih pasrah, menyerahkan semua kepada kehendak Allah. Sebelum pergi, saya merengkuh kembali punggung tangannya, selagi sempat , saya reguk seluruh keikhlasan yang pernah dipersembahkannya untuk saya. Selagi sisa waktu yang saya punya masih ada, tangannya saya ciumi sepenuh takzim. Saya takut, sungguh takut, tak dapati lagi kesempatan meraih tangannya, meletakannya di kening.
***
Bagaimana dengan kalian para sahabat? Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau ada, duduk di depan komputer dan membaca tulisan saya ini. Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau bisa menjadi seseorang yang menjadi kebanggaan. Engkau sangat tahu, dibanding siapapun juga. Maka, usah kau tunggu hingga tangannya gemetar, untuk mengajaknya bahagia. Inilah saatnya, inilah masanya.
Ibumu adalah
Ibunda darah dagingmu
Tundukkan mukamu
Bungkukkan badanmu
Raih punggung tangan beliau
Ciumlah dalam-dalam
Hiruplah wewangian cintanya
Dan rasukkan ke dalam kalbumu
Agar menjadi azimah bagi rizki dan kebahagiaan
(Emha Ainun Najib)
Siang sudah sampai pada pertengahan. Dan Ibu begitu anggun menjumpai saya di depan pintu. Gegas saya rengkuh punggung tangannya, menciumnya lama. Ternyata rindu padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ibu juga mendaratkan kecupan sayang di ubun-ubun ini, lama. "Alhamdulillah, kamu sudah pulang" itu ucapannya kemudian. Begitu masuk ke dalam rumah, saya mendapati ruangan yang sungguh bersih. Sudah lama tidak pulang.
Ba'da Ashar,
"Nak, tolong angkatin panci, airnya sudah mendidih". Gegas saya angkat pancinya dan dahipun berkerut, panci kecil itu diisi setengahnya. "Ah mungkin hanya untuk membuat beberapa gelas teh saja" pikir saya
"Eh, tolongin bawa ember ini ke depan, Ibu mau menyiram". Sebuah ember putih ukuran sedang telah terisi air, juga setengahnya. Saya memindahkannya ke halaman depan dengan mudahnya. Saya pandangi bunga-bunga peliharaan Ibu. Subur dan terawat. Dari dulu Ibu suka sekali menanam bunga.
"Nak, Ibu baru saja mencuci sarung, peras dulu, abis itu jemur di pagar yah" pinta Ibu.
"Eh, bantuin Ibu potongin daging ayam" sekilas saya memandang Ibu yang tengah bersusah payah memasak. Tumben Ibu begitu banyak meminta bantuan, biasanya beliau anteng dan cekatan dalam segala hal.
Sesosok wanita muda, sedang menyapu ketika saya masuk rumah sepulang dari ziarah. "Neng.." itu sapanya, kepalanya mengangguk ke arah saya. "Bu, siapa itu.?" tanya saya. "Oh itu yang bantu-bantu Ibu sekarang" pendeknya. Dan saya semakin termangu, dari dulu Ibu paling tidak suka mengeluarkan uang untuk mengupah orang lain dalam pekerjaan rumah tangga. Pantesan rumah terlihat lebih bersih dari biasanya.
Dan, semua pertanyaan itu seakan terjawab ketika saya menemaninya tilawah selepas maghrib. Tangan Ibu gemetar memegang penunjuk yang terbuat dari kertas koran yang dipilin kecil, menelusuri tiap huruf al-qur'an. Dan mata ini memandang lekat pada jemarinya. Keriput, urat-uratnya menonjol jelas, bukan itu yang membuat saya tertegun. Tangan itu terus bergetar. Saya berpaling, menyembunyikan bening kristal yang tiba-tiba muncul di kelopak mata. Mungkinkah segala bantuan yang ia minta sejak saya pulang, karena tangannya tak lagi paripurna melakukan banyak hal?
"Dingin" bisik saya, sambil beringsut membenamkan kepala di pangkuannya. Ibu masih terus tilawah, sedang tangan kirinya membelai kepala saya. Saya memeluknya, merengkuh banyak kehangatan yang dilimpahkannya tak berhingga.
Adzan isya berkumandang,
Ibu berdiri di samping saya, bersiap menjadi imam. Tak lama suaranya memenuhi udara mushala kecil rumah. Seperti biasa surat cinta yang dibacanya selalu itu, Ad-Dhuha dan At-Thariq.
Usai shalat, saya menunggunya membaca wirid, dan seperti tadi saya pandangi lagi tangannya yang terus bergetar. "Duh Allah, sayangi Mamah" spontan saya memohon. "Neng." suara ibu membuyarkan lamunan itu, kini tangannya terangsur di depan saya, kebiasaan saat selesai shalat, saya rengkuh tangan berkah itu dan menciumnya.
"Tangan ibu kenapa?" tanya saya pelan. Sebelum menjawab, ibu tersenyum maniss sekali.
"Penyakit orang tua"
"Sekarang tangan ibu hanya mampu melakukan yang ringan-ringan saja, irit tenaga" tambahnya.
Udara semakin dingin. Bintang-bintang di langit kian gemerlap berlatarkan langit biru tak berpenyangga. Saya memandangnya dari teras depan rumah. Ada bulan yang sudah memerak sejak tadi. Malam perlahan beranjak jauh. Dalam hening itu, saya membayangkan senyuman manis Ibu sehabis shalat isya tadi. Apa maksudnya? Dan mengapakah, saya seperti melayang. Telah banyak hal yang dipersembahkan tangannya untuk saya. Tangan yang tak pernah mencubit, sejengkel apapun perasaannya menghadapi kenakalan saya. Tangan yang selalu berangsur ke kepala dan membetulkan letak jilbab ketika saya tergesa pergi sekolah. Tangan yang selalu dan selalu mengelus lembut ketika saya mencari kekuatan di pangkuannya saat hati saya bergemuruh. Tangan yang menengadah ketika memohon kepada Allah untuk setiap ujian yang saya jalani. Tangan yang pernah membuat bunga dari pita-pita berwarna dan menyimpannya di meja belajar saya ketika saya masih kecil yang katanya biar saya lebih semangat belajar.
Sewaktu saya baru memasuki bangku kuliah dan harus tinggal jauh darinya, suratnya selalu saja datang. Tulisan tangannya kadang membuat saya mengerutkan dahi, pasalnya beberapa huruf terlihat sama, huruf n dan m nya mirip sekali. Ibu paling suka menulis surat dengan tulisan sambung. Dalam suratnya, selalu Ibu menyisipkan puisi yang diciptakannya sendiri. Ada sebuah puisinya yang saya sukai. Ibu memang suka menyanjung :
Kau adalah gemerlap bintang di langit malam
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana,
Bukan!, kau lebih dari itu,
Kau adalah benderang matahari di tiap waktu,
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah Sinopsis semesta
Itu saja.
Tangan ibunda adalah perpanjangan tangan Tuhan. Itu yang saya baca dari sebuah buku. Jika saya renungkan, memang demikian. Tangan seorang ibunda adalah perwujudan banyak hal : Kasih sayang, kesabaran, cinta, ketulusan.. Pernahkah ia pamrih setelah tangannya menyajikan masakan di meja makan untuk sarapan? Pernahkan Ia meminta upah dari tengadah jemari ketika mendoakan anaknya agar diberi Allah banyak kemudahan dalam menapaki hidup? Pernahkah Ia menagih uang atas jerih payah tangannya membereskan tempat tidur kita? Pernahkah ia mengungkap balasan atas semua persembahan tangannya?..Pernahkah..?
Ketika akan meninggalkannya untuk kembali, saya masih merajuknya "Bu, ikutlah ke jakarta, biar dekat dengan anak-anak". "Ah, Allah lebih perkasa di banding kalian, Dia menjaga Ibu dengan baik di sini. Kamu yang seharusnya sering datang, Ibu akan lebih senang" Jawabannya ringan. Tak ada air mata seperti saat-saat dulu melepas saya pergi. Ibu tampak lebih pasrah, menyerahkan semua kepada kehendak Allah. Sebelum pergi, saya merengkuh kembali punggung tangannya, selagi sempat , saya reguk seluruh keikhlasan yang pernah dipersembahkannya untuk saya. Selagi sisa waktu yang saya punya masih ada, tangannya saya ciumi sepenuh takzim. Saya takut, sungguh takut, tak dapati lagi kesempatan meraih tangannya, meletakannya di kening.
***
Bagaimana dengan kalian para sahabat? Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau ada, duduk di depan komputer dan membaca tulisan saya ini. Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau bisa menjadi seseorang yang menjadi kebanggaan. Engkau sangat tahu, dibanding siapapun juga. Maka, usah kau tunggu hingga tangannya gemetar, untuk mengajaknya bahagia. Inilah saatnya, inilah masanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)